Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label Penyubur Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyubur Iman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2009

Nasehat Al-Qur'an Terhadap Orang Kaya

Ini juga nesehat untuk orang kaya yang berbentuk cerita Qorun dalam alquran, harta menurut alquran bagaimana? apakah harta itu anugrah ataukah ujian kepada manusia? Lalu bagaimana sikap kita trhadap harta ini? harta jadi nikmat apabila yang dicari dengan halal dan dikeluarkan di jalan Allah, islam tidak hanya menjelaskan apa harta itu, untuk apa harta itu tetapi darimana diperoleh dan bagaimana menyalurkannya? Apabila harta itu diperoleh atas jalan yang dilarang oleh Allah maka harta itu bencana yang dikirim oleh Allah didunia sebelum bencana diakhiratnya, ada bermacam-macam pertanyaan Allah ketika mengijak padang mahsyar salah satunya adalah mengenai hartanya dan jawabannya itu akan menajadikan dia tergolong orang yang selamat yang akan digiring ke surga ataukah jatuh ke neraka.

Al-anfal 28 “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar[8:28]. Disana gamblang bahwa harta itu merupakan ujian dan cobaan kepada manusia setiap ujian itu pasti ada yang sukses dan ada juga yang gagal, yang selamat melewati ujian ini akan mendapat pahala yang besar dihadapan Allah. Apabila mensyukuri pastilah akan ditambah oleh Allah dan yang mengkufuri ada azab yang pedih dari Allah. Sesungguhnya harta dan anak kalian adalah fitnah ujian dan cobaan. Karena itu jangan terlalu bangga dengan ujian kita belum tentu kita selamat atas ujian ini.

Harta ini merupakan ujian agar menampak indah dan tidak akan orang berhias dengan hartanya selamanya, harta dan anak merupakan hiasan dunia tapi sesungguhnya yang terbaik disisi Allah itu adalah amal sholeh.

Setiap umat itu ada cobaan dan cobaan untuk umat hari ini adalah harta, sebenarnya kikir itu tidak murni jelek, sombong tidak murni jelek tapi dimana diletakkan maka akan ketahuan keliatan jelek ataukah bagus. Alquran ini menyebutkan harta ini “khoir” sesuatu yang baik, kapan?? kalau digunakan dalam jalan yang baik, harta itu sebaik-baik penolong dijalan Allah.

Harta itu bukan dijadikan tolak ukur kemuliaan dihadapan Allah dan ini ditolak Alquran, itu konsep yang salah yang sebenarnya ialah kalian tidak memberi makan orang miskin dan memuliakan orang yatim, apabila ia mampu memberi semua itu tadi maka ia akan menjadi mulia dihadapan Allah. [al-mukmin 55-56]
[23:55] Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa)[55], Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar {1008}[23:56] .

[Qs sabak 37] “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga).[34:37]
Bukan berati harta banyak anak banyak ia deket sengan Allah yahg dekat dengan Allah ialah apabila ia gunakan harta untuk beramal sholeh dan anaknya dibimbing kejalan Allah.

Alquran menceritakan orang kafir berpandangan harta mereka akan menyelamatkannya dari siksaan Allah dan akan kekal abadi bersama kenikmatan anggapan ini salah total maka ia jadi sibuk menumpulkan dan menghitung terus tanpa berfikir dia akan mati karena ia menganggap harta ini akan mengekalkannya ia baru sadar ketika sudah berada dalam kuburan tapi sadar saat itu percuma mustahil karena tidak akan kembali ke dunia lagi.

Allah menceritakan kepada kita ceritakan dalam alquran seseorang yang memiliki 2 kebun yang subur dan menghasilkan banyak hasil Allah tidak mendoliminya tidak mengurangi tapi dia masuk ke kebunnya dengan penuh congkak dan sombongnya membanggakan hartanya spontan dibakar habin kedua kebunnya itu ia baru sadar kalau hartanya itu bukan miliknya. kalau ketemu orang yang kaya cepet akrabnya dan memandang orang miskin mata sebelah, suka memamerkan kekayaannya dihadapan orang miskin Qorun pernah show dengan seluruh hartanya. Ia tidak meyakini adanya kiamat dan apabila ada kiamat ia meyakini kalau ia dibangkitkan pasti kaya juga spontan Allah membakar kebunnya dan akhirnya sadar.

Orang menjadi melampaui batas ketika beranggapan tidak butuh yang lain dan berbuat durjana di bumi Allah, kalau Allah mencurahkan semua rizki-Nya maka manusai akan semakin lupa dengan Allah, mak Allah hanya menurunkan sesuai kadarnya karena Allah Maha mengetahui.

Apabila orang sudah gila hartanya maka ia akan lebih kejam lagi daripada penguasa yang dholim, orang yang punya harta ingin mengatur semua Orang ia tidak mau didekte orang ia beranggapan ia yang paling benar dan berkuasa, seperti kaum nabi suaib karena nabi ingin mengatur harta-harta mereka maka yang pertama kali menolak adalah orang-orang yang kaya karena mereka tidak mau diatur. Qorun juga sudah kebal dengan nasehat karena beranggapan harta yang ia peroleh adalah dari kepandaiaanya sendiri bukan dari Allah, kalau Allah berkehendak mengapa Allah tidak membantu mereka (orang miskin) sendiri?? mereka tidak percaya neraka, tidak percaya hari kiamat, ini kadang diungkapkan tanpa sadar.

Orang yang selalu sibuk dengan harta tidak akan pernah konsekuen dengan agama, [alfatah;11] “Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami"; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfa'at bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan[48:11]

Mereka orang-orang yang tidak bergabung dengan rosul dengan berbagai alasan, semua yang membawa kehancuran kita pada dunia dan akhirat itu adalah musuh. Kadang orang yang berharta itu ketika diberi dakwah kepada mereka bukan menjadi dekat kepada Allah tapi menjadikan mereka semakin jauh.

Ada ungkapan yang keliru dan menjauhkan dari Allah yaitu “Cari yang haram susah apalagi yang halal?” Ungkapan ini sangat berbahaya dihadapan Allah, mereka beranggapan kalau mencari yang halal ia pasti mati ini ungkapan yang salah. Harta di akhirat tidak akan pernah kita bawa paling kalau mati yang dibawa cuman kain kafan, bukan berarti kita dilarang menjadi kaya tapi jangan jadikan harta ini adalah tujuan hidup mereka akan tergelincir dalam kehancuran tapi jadikan harta ini sebagai wasilah dan yang menyambung kenikmatan dunia ke Akhirat karena disana kehidupan yang sebenarnya.

Harta ini milik Allah kita tidak punya apa-apa seperti ketika kita lahir dan kita mati cuman bedanya kalau mati kita membawa kain kafan, jangan memuji harta dan jangan pula mencelanya kecuali untuk Allah

Harta adalah sebaik-baik pembantu kita untuk selamat di akhirat, sesial-sial orang ialah apabila ia gila harta dan menuju kepada Allah tanpa membawa bekal, dunia ini adalah ladang kita untuk membangun kehidupan kita di akhirat, harta yang kekal adalah harta yang sudah diberikan untuk Allah. Harta bukan seseatu jika tidak dijadikan untuk amal untuk Allah tapi harta segala sesuatu jika kita gunakan untuk amal.

Mengenai cerita Qorun dalam [Qoshosh ;76-83]
1. Jangan gembira yang berlebihan sampai congkak karena Allah tidak suka sombong sehingga lupa daratan, menerima khikmatan Allah yang membawa lupa kepada pemberi nikmatnya, melupakan semua ketentuan Allah amat gembira ini yang dilarang. Sombong itu menolak kebenaran menolak kebaikan, sombong bukan berarti memakai pakaian yang terbaik, orang yang sadar dirinya darimana berasal maka ia tidak akan congkak lagi,

2. Kejarlah akhirat dari harta-harta ini untuk pelantara memakmurkan kehidupan akhirat, orang dengan hartanya bisa menjadikan ia lebih dekat dengan Allah, jangan jadi orang yang tidak menimati dunia dan di akhirat tidak dapat apa-apa. Harta yang telah keluarkan itu milik kita bukan harta yang masih kita simpen belum pasti milik dia.

3. Pertama Allah tidak memerintahkan mengeluarkan semua harta maka nikmatilah dunia ini, karena Allah senang kalau yang diberi tadi menikmatinya apa yang Allah berikan semua ini niatkan untuk akhirat kitapun memperolehnya pahalanya di akhirat.

Kedua [al-a'rof; 32] Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat {536}." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

4. Berbuat baik seperti Allah berbuat baik kepadamu, sering manusia menepuk dadanya ia kira semua itu dari kepandaiaanya bukankah Allah yang mengirim semua ini kembalinya semuanya dari Allah, kitakan tidak mau Allah memutus rizki kita maka kita harus berbuat baik kepada sesama juga, maka jangan putus rizki orang-orang yang membutuhkan dari harta-hartamu, apabila kita berbuat baik maka yang pertama kali untung pertama kali adalah sipemberi karena pahalanya dilipat gandakan Allah baru orang lain merasakannya, kikir berarti kikir untuk dirnya sendiri.

5. Jangan berbuat durjana melalui harta ini untuk meresahkan bumi Allah, harta ini akan menjadi bencana bila yang memegang tangan yang salah, berapa banyak orang yang tunduk oleh orang berharta, undang-undang bisa diubah oleh orang-orang berharta, bacalah surat (al-Qolam dan al-kahfi).

Narasumber ;
- Sentuhan Qolbu Bersama habib Muhammad bin Alwi Pasuruhan
- www.pasfmpati.com Streaming PukuL 00:00 Wib
- www.jkmhal.com

Hak-hak Kedua Orang Tua

Banyak ayat didalam Alquran yang menjelaskan tentang kewajiban berbuat baik kepada orangtua, agar setiap orang berbakti kepada orangtua, kita wajib bersyukur kepada Allah spontan kita juga berbakti kepada orangtua, apabila kita mengenal arti taukhid kepada Allah dalam waktu yang bersamaan selalu Alah memerintahkan berbakti kepada orangtua ini ada pada Qs al-israa' 23-24;
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia {850}.[23]
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"[24] .

Dalam Albaqarah ;83 Allah berfirman “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling[2:83]. Jangan menyembah kecuali Allah dan berbuat baiklah kepada orangtua,

An-nisa ;36 “[4:36] Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh {294}, dan teman sejawat, ibnu sabil {295} dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

Al-an'am ;151 “[6:151] Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar {518}". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

Berkaitan dengan larangan syirik kepada Allah dengan apapun dan berbuat baik kepada orangtua, kita harus berikan keperluanya sebelum mereka meminta dan ini adalah salah satu berbuat baik, jangan sampai mereka memohon karena apabila mereka sampai memohon itu menusuk hatinya, dalam tunggu kita menanti mereka meminta sesuatu posisikan kita rendah dihadapan mereka.

Kita mutlak berbuat baik kepada orangtua ini sabda rosul SAW meskipun mereka mukmin bahkan orang kafir, perlakukan mereka yang baik apabila salahsatu dari mereka sudah tua jangan pernah berkata “Ufh” ini menolak ringan dan ini merupakan ungkapan yang menolak karena orang apabila tambah tua pemikirannyapun tidak seperti masa dulu dan kita tidak boleh capek, meskipun membuat posisi kita sulit dan tidak sesuai dengan permintaannya dengan kita, kadang anak yang sudha besar ia tidak perlu lagi pada orangtuanya padahal orangtunya semakin lama semakin tua maka alquran sangat menekan jangan pernah membantah jangan dibuat sedih, jangan dibentak kita tetep diperintahkan berbuat baik apapun permintaannya dalam kondisinya bagaimanapun, bersikap rendahdirilah kepada mereka dengan penuh kasih sayang dan yang terakhir adalah mendoakan mereka masih hidup ataupun sudah mati dan ini pasti sampai karena doa ini akan didengar oleh Allah meskipun mereka telah meninggal ini mutlak harus.

Tapi kedudukan mereka berbeda yaitu yang lebih tinggi yaitu ibu karena ibu mengandung dalam lemah dari kelemahannya dan menyusui lalu bersyukurlah kepada Allah karena Allah yang menciptakan kita, ibu menurut imam sajjad ;
1. Dia yang mengandung, tidak ada yang mampu kecuali ibu,
2. Memberikan semuanya kepada anak, dan tidak ada yang mampu kecuali ibu,
3. Dia telah mempersiapkandiri untuk melaksanan yang terbaik untuk anaknya baik itu seluruh anggota badan diberikan semua untuk kenyamanan anaknya, apabila malam hari menangis ibu akan memeluknya bahkan tidak gerak sedikitpun supaya sang anak tidak bangun,
4. Melakukan semuanya dengan senang, memikul semua kesedihannya semua demi anak
5. Dia rela kelaparan yang penting anaknya kenyang dan itu ia gembira karena itu
6. Dia rela tidak punya pakaian yang penting anaknya berpakaian
7. Gembira kalau anaknya tidak dahaga, meski ibu kahausan,
8. Siap menderita yang penting anaknya senang,

Hak seorang ibu tidak akan pernah mampu dibayar meski anaknya menggendong ibu untuk towaf keliling ka'bah meskipun ini pahalanya sangat besar tapi tidak akan pernah mampu mebayar meski sekali sakit pada saat akan melahirkan, karena itu rosul mewasiatkan supaya kita berbakti kepada ibu kita,ibu, ibu,baru bapak dan kerabat lalu rosul SAW bersabda surga dibawah telapak kaki ibu lalu kenapa kita harus mencari surga dimana-mana? Padahal dibawah telapak kakinya ibu surga.

Ada pemuda yang mengeluh karena problem lalu datang kepada rosul minta solusi supaya bebas dan selesai semua problemnya tapi rosul menanyakan apakah ia masih punya ibu , lalu pemuda tadi berkata ibunya sudah meninggal sedangkan yang dia punya hanya bapak, lalu rosul menganjurkan untuk datang kepada bapaknya minta doanya, belum pergi begitu jauh dari hadapan rosul SAW, Rosul bersabda dihadapan para sabahatnya dan ini juga sabda yang pertama “Demi Allah andai ibunya masih hidup akan lebih cepat selesai problemnya”, bahkan apabila kita mau berjihat (apabila kita menyerang musuh) tapi ibu kita menangisi kepergian kita maka rosul menyeruh untuk tetap bersama ibunya, karena ini yang lebih penting, tapi kalau diserang yang lebih penting adalah berjihad melawan musuh-musuh Allah, karena dalam medan perang surga berada dibawah pedang.

Berikut adalah hak-hak Ayah antaralain ;
1. Ayah adalah asal kita karena tanpa ayah tidak kita akan ada,
2. Apapun yang kamu melihat kesuksesan yang telah kita capai semua itu tidak akan kita peroleh tanpa ayah, karena itu bersyukurlah pada Allah lalu bersyukur kapada orangtua,
3. Ayah itu adalah salah satu pintu surga maka jangalah pintu itu, kita berbakti kepada orangtua maka anak-anak kita juga akan berbakti kepada kita dan ini balasan yang masih didunia belum nanti diakhirat. Kalau kita mempunyai segala sesuatu berikan terlebih dahulu orangtuamu, orang yang durhaka pada orangtua tidak akan pernah memperoleh bau harum surga sekalipun,

Lalu masih adakah waktu kita berbuat baik kepada orangtua kita yang telah wafat ;
1. Sholat untuk mereka
2. Memohonkan ampun untuk mereka berdua
3. Melaksanakan apa yang mereka tentukan dalam hal-hal yng masih dalam naungan perintah Allah, melaksanakan janji mereka, melaksanakan semua wasiatnya,
4. Menghormati kawan mereka, jangan kita putus muliakanlah mereka yang pernah berbuat baik kepada orangtua kita,
5. Menghubungi sanak-saudara mereka yang masih ada hubungan, rosul SAW pernah bersabda pemimpin orang-orang yang bakti adalah orang-orang yang berbuat baik kepada sanak-saudara pada orangtua.

Pandanglah orangtua dengan lembut, jangan angkat suara melebihi suara orangtua apalagi membentak ini merupakan durhaka.

Hak seorang anak ;
1. Dikenalkan siapa Tuhannya
2. Memberi bimbingan yang baik untuk mengajak anak taat kepada Allah
2. Anak adalaah wasiat Allah supaya kita membimbing mereka
3. Anak merupakan hadiah dari Allah
4. Umur 7 tahun pertama biarkan mereka bermain, umur 7 tahun kedua jadikan mereka seolah-olah kawanmu dan berilah bimbingan yang sesuai dengan zamannya tapi yang tidak bentrok dengan hukum Allah, anak itu perlu bimbingan dari orangtua tapi dizaman sekarang apalagi dikota-kota besar anak tidak pernah bertemu dengan orangtuanya padahal mereka perlu bimbingan dan ini besar tanggungjawabnya kelak dihadapan Allah.

Apa yang yang harus kita lakukan kepada Anak-anak
1. Kenalkan mereka untuk mengenal rosul SAW
2. Kenalkan mereka untuk mengenal ahlul bait n para sahabat rosul supaya mereka cinta
3. Lalu gemarkan mereka untuk membaca Alquran
apabila kita mendidik anak untuk beramal sholeh maka kita akan mendapat pahalanya juga ketika diakhirat, bantu anak untuk beramal sholeh dan berbakti kepada orangtua pasti sang bapak dan ibu juga mendapat rahmad Allah, orangtua mampu membuang kedurhakaan dari anaknya tapi orangtua juga bisa menyebabkan anak itu mejadi durhaka kepada orangtuanya.

- Ya Allah apabila ampunanmu ada untukku maka terlebih dahulu ampunilah dosa orangtuaku
- Ya Allah apabila syafaatmu itu ada untukku beri syafaatmu juga untuk kedua orangtuaku
- Ya Allah apabila syafaatmu ada kepada orangtuaku gambungkan aku kedalam syafaat mereka
- Ya Allah lipatgandakan padaha kedua orantuaku disisimu Amin

Sumber;
- Sentuhan Qolbu bersama habib Muhammad bin Alwi Pasuruhan
- www.pasfmpati.com Streaming Pukul 00:00 Wib
- www.jkmhal.com


TIPS DARI ROSUL SAW MENGHADAPI HIDUP

Semua amal kita dimintai pertanggungjawaban kelak, apabila baik maka surga dan kerelahan Allah akan menanti kita, dan apabila amal jelek neraka dan kemurkaan Allah yang akan menanti kita disana, maka lepaskanlah amal perbuatan jelek kita dengan istighfar dan harus cepat-cepat meminta ampun apabila kita kembali ke akhirat akan membawa kejelekan itu, dan apabila cepat-cepat minta ampun maka kita kembali ke Allah sudah diampuni dosa-dosa kita, tidak memikul lagi sanksi atas perbuatan kita.

Datanglah seorang kepada rosul yang mengatakan “aku berbuat dosa ya rosul, rosul menjawab “istighfar kepada Allah”, “aku sudah minta ampun ya rosul tapi aku masih mengulang sampai ketiga kalinya” tapi rosul tetep menyuruh meminta ampun kepada Allah sampai setan kalah, jangan sampai putus asa dalam ampunan Allah karena itu dosa besar, dan harus diingat jangan main-main dengan dosa yang terus disengaja karena tau kalau Allah itu maha pengampun dosa, lalu meremehkan Allah. Ini akan menjadi besar dihadapan Allah.

Jiwa kita tergadai dengan amal kita maka lepaskan dengan istigfar kepada Allah, kalau berbuat dosa cepat-cepat lakukan perbuatan baik supaya dosa itu bisa terhapuskan, surga dan neraka itu ya kita sendiri yang bangun, sebenarnya punggung anak adam ini memikul beban berat maka ringankanlah dengan perbanyak sujud dihapan Allah, beban itu adalah dosa entah tiap hari berapa banyak dosa yang kita perbuat, kita jadi bungkuk karena semua beban itu maka ringankanlah dosa ini dengan perpanjang sujud kepada Allah, dosa apabila dilakukan anak adam seperti menciptakan titik hitam dihatinya apabila dilakukan terus menerus maka hati itu akan jadi hitam dan akan terbalaik hatinya sehingga senang kepada kebatilan dan benci kepada hak dan ini adalah siksaan Allah terberat sebelum diakhirat. Normalnya hati malu dan takut apabila melakukan dosa seperti kepalanya ada beban yang berat dan menjadi gelisah, malu dan takut kalau orang lain tau dosa yang telah dilakukannya.

Perumpamaannya gelas apabila masih normal itu menghadap keatas akan bisa diisi segala sesuatu sesuai kapasitasnya tapi kalau sudah terbalik maka ia tidak bisa menerima apapun lagi nasehat tidak lagi dihiraukan seakan-akan lewat gitu saja, rosul pernah menggambarkan posisi hamba paling dekat dihadapan Allah ketika sujud, sujud dapat menyelesaikan masalah-masalah, menyeselainnya dengan berusaha dan bersujud dalam keadaan apapun itu, setiap orang sujud sekali Allah mengangkat derajadnya, perpanjanglah sujud karena itu bakaian menghina iblis karena iblis disuruh sujud tidak pernah mau.

Allah bersumpah dengan segala kebesaranya tidak akan menyiksa orang-orang yang sholat dan bersujud karena mereka adalah orang yang mulia disisi Allah karena itu mustahil Allah akan menyiksa mereka, kenapa rosul masih menyebut sujud padahal sudah menyebut sholat? Karena pentingnya sujud itu sendiri ada juga sujud yang diluar sholat misalnya sujud tasyakur setelah sholat dengan berkata “syukron”, misal setelah sholat tahajjud sujud dan mengucapkan ini berulang-ulang “laa illa ha illa anta subhaanaka ini dst”. Kedua Allah tidak akan menakut-nakuti terhadap neraka hampir setiap orang kelak akan diperlihatkan ketika dibangkitkan dipadang mahsyar dengan dinampakkan neraka jahannam, suara neraka saja bisa melupakan kenikmatan dunianya semua orang akan ketakutan. Tapi dalam hal ini bukan perbuatan sujud dan sholat saja, tapi orang yang sujud dan sholat dengan sebenarnya.

Sumber :
- Sentuhan Qolbu bersama Habib Muhammad bin Alwi Pasuruhan
- www.pasfmpati.com Streaming Pukul 00:00 Wib


Bagaimana Cara Kita Brtaqwa


Dalam (surat al Hadiid ; 20) ada 3 jalan agar kita menjadi bertaqwa :
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah - megah antara kamu serta berbangga -banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.[57:20]

Kehidupan dunia ini adalah Fatamurgana dan tipu menipu, perhiasan saja, saling membangga-banggakan, saling banyak harta dan anak, Allah menggambarkan hujan turun maka petani suka dan berebut untuk menanam padi dan setelah itu kering kemudian kuning dan diakhirat ada siksaan yang pedih untuk itu ; lalui jalan 3 ini ini disabdakan Oleh Rosul S.A.W dikomentari oleh imam Ali Sa lalu Imam Husein Sa ada 3 Golongan orang takwa ;

1. Menyembah Allah tetapi mengharap sesuatu dari Allah karena takut ini seperti prinsip orang dagang tujuannya supaya tidak disiksa kelak diakhirat, dan ini tidak salah dan diizinkan karena Allah tau kedudukan kita dan bagaimana kemampuan kita ini. Ibadah kita pada dasarnya lebih takut neraka daripada mengharap surga Allah. Karena neraka itu ialah simbul kemurkaan Allah jadi sungguh pantas kalau neraka ditakuti.

2. Menyembah Allah tatpi (roja') mengharap surga Allah yang penuh dengan kenikmatannya, seperi hamba sahaya kepada majikannya yang mengharap sesuatu kepada Majikannya kalau keinginannya sudah tercapai maka akan melupakan. Maka ini berarti bukan Allah yang mereka cari tatapi surgadan ini tidak disalahkan Allah karena Allah pernah menawarkan kita membeli taqwa kita dengan surganya. Jadi jangan disalah pahami karena ini adalah kemampuan kita dan ini adalah ibadah yang besar.

3. Beribadah karena mensyukuri nikmat Allah yang diberikan dan karena Allah pantas untuk disembah dan ini murni cinta kepada Allah melebihi segala sesuatu inilah orang-orang yang merdeka ini kedudukan yang tak pernah tersentuh kecuali para anbiya' dan orang-orang mutohharun. Seperti munajat imam Ali Sa. menyembah kepada Allah bukan takut neraka dan ingin surga tapi beliau menyembah Allah karena Allah itu pantas disembah, bagi mereka surga itu adalah Allah itu sendiri maka mereka tak pernah memikirkan neraka dan surga.

Salah satu kenikmatan surga ialah Allah akan memberi mereka minuman, dari minuman ini akan mensucikan mereka sehingga yang ada apa yang mereka lihat adalah Allah dan ini sudah dimiliki Oleh ahlul Bait sehingga mereka tidak melihat sesuatu kecuali hanya Allah baik itu mereka melihat melalui matanya ataupun lewart hatahatinya. segala sesuatu yang terlihat baik itu bidadari atau sebagainya hanyalah Allah yang nampak. Harapan terbesar yang diharapkan dari orang yang mencintai ialah dengan mendapatkan cinta dari yang kita cintai itu dan ini hanya bisa melalui Sayyidil wujud Muhammad S.A.W

nabi ibrohim As mendapat kedudukan kholilurrohman salah satunya karena banyak-banyaknya beliau As bersholawat kepada Nabi teragung Muhammad S.A.W

Narasumber ;
- Sentuhan qolbu Habib Muhammad bin Alwi pasuruhan
- www.pasfmpati.net Pukul 00:00 W.i.b
- www.jkmhal.com


Memperbarui Komitmen Setiap Malam

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhary disebutkan bahwa setiap malam ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bangun untuk sholat malam beliau menyampaikan sebuah doa kepada Allah ta’aala yang intinya memohon ampunan Allah ta’aala atas segenap dosa di masa lalu dan yang akan datang. Namun sangat menarik untuk dicatat bahwa doa tersebut diawali dengan rangkaian ungkapan pujian yang mengandung pembaruan komitmen Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Allah ta’aala dan kepada kehidupan akhirat.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Bila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bangun di waktu malam untuk sholat tahajjud beliau mengajukan doa berikut: “Ya Allah, bagimu segala puji, Engkau Penegak langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, milikMu Kerajaan langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Raja langit dan bumi. BagiMu segala puji, Engkaulah Yang Maha Benar, dan janjiMu benar, perjumpaan denganMu benar, firmanMu benar, Surga itu benar, Neraka itu benar, para NabiMu benar, dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam benar, Kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepadaMu aku berserah diri dan beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku mengadu, dan kepadaMu aku berhukum. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan tampak. Engkaulah Yang terdahulu dan Yang terakhir dan tidak ada ilah selain Engkau.” (HR Bukhary 1053)

Dari doa di atas jelas terlihat betapa dalamnya perenungan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di tengah malam. Jika setiap muslim melakukan sholat malam diiringi membaca doa di atas, niscaya ingatannya terhadap kehidupan akhirat tentu akan menjadi sangat kuat. Coba perhatikan potongan doa di atas, terutama bagian di bawah ini:

أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ

”... Engkaulah Yang Maha Benar, dan janjiMu benar, perjumpaan denganMu benar, firmanMu benar, Surga itu benar, Neraka itu benar...”

Subhanallah...! Kalimat di atas merupakan rangkaian pembaruan ungkapan komitmen, laksana pembaruan bai’at seorang prajurit kepada komandannya. Jika seorang muslim membaca kalimat di atas setiap malam dengan penghayatan penuh tentulah ia akan menjadi seorang hamba Allah ta’aala yang berkeyakinan mantap akan kehidupan setelah kematian. Ia akan menjadi bersemangat mengusahakan segala daya-upaya untuk meraih kenikmatan surga. Demikian pula ia akan menjadi sangat bersungguh-sungguh menghindari azab neraka Allah ta’aala yang amat menakutkan. Ia tidak akan pernah menganggap surga dan neraka sekedar sebagai mitos mengandung hiburan atau ancaman khayali.

Bila seorang muslim sudah yakin akan kehidupan akhirat, niscaya ia akan menjadi sangat berbeda dengan orang yang pengetahuannya hanya sebatas ruang lingkup dunia fana. Dan Allah ta’aala memerintahkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam serta ummatnya untuk meninggalkan golongan manusia seperti itu.

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ

”Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan hanya menginginkan kehidupan duniawi. Itulah batas pengetahuan mereka.” (QS An-Najm ayat 29-30)

Sungguh sangat berbeda sikap dan prilaku seorang ahli dunia dengan ahli akhirat. Seorang ahli dunia sangat berambisi mengejar keberhasilan jangka pendek sehingga justru Allah ta’aala cerai-beraikan urusannya di dunia dan akhirat dan Allah ta’aala jadikan ia selalu dihantui oleh bayang-bayang kefakiran di dalam kehidupan dunia. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di hadapan kedua matanya dan Allah tidak memberinya dari harta dunia ini, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)

Sebaliknya seorang beriman yang keinginan dan fokusnya sangat kuat akan kebahagiaan akhirat malah Allah ta’aala janjikan untuk menata kehidupan dunianya dengan baik, lalu hatinya senantiasa tenteram di dunia maupun di akhirat kemudian dunia justru bakal mendekati dirinya dengan cara yang samasekali tidak terfikirkan olehnya sama sekali. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Dan barangsiapa yang akhirat menjadi keinginannya, niscaya Allah ta’aala kumpulkan baginya urusannya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya.” (HR Ibnu Majah 4095)



Ciri Utama Orang Bertaqwa

Seperti kita ketahui bahwa segenap bentuk ibadah kepada Allah ta’aala di dalam ajaran Islam adalah untuk mencetak manusia bertaqwa.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi bertaqwa.” (QS Al-Baqarah ayat 21)

Termasuk ibadah shaum (puasa) sepanjang bulan Ramadhan adalah untuk melahirkan insan bertaqwa. Lalu apa sebenarnya ciri orang bertaqwa menurut Allah ta’aala? Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menggambarkan ciri orang bertaqwa. Namun barangkali salah satu ayat yang menggambarkan ciri utama orang bertaqwa adalah ayat sebagai berikut:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآَخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

Jelas sekali berdasarkan ayat di atas bahwa Allah ta’aala menghendaki orang bertaqwa agar memandang bahwa kehidupan di akhirat yang kekal dan hakiki adalah lebih baik daripada kehidupan di dunia yang fana dan menipu. Hal ini sejalan dengan penggambaran dalam ayat lainnya, yaitu:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)

Allah ta’aala menghendaki agar orang bertaqwa memandang kehidupan akhirat dengan penuh kesungguhan karena di sanalah kehidupan sejati akan dijalani manusia. Sedangkan terhadap dunia Allah ta’aala menghendaki orang bertaqwa agar berlaku proporsional saja dan tidak terlampau ngoyo dalam meraih keberhasilannya. Sebab kehidupan dunia ini Allah ta’aala gambarkan sebagai tempat dimana orang sekedar bermain-main dan bersenda-gurau.

Di dunia, pada hakikatnya, orang tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati maupun mengalami penderitaan hakiki. Sementara di akhirat orang bakal senang di surga dalam pengertian yang sesungguhnya dan abadi pula. Dan sebaliknya, di dalam neraka orang akan merasakan penderitaan sejati dan kekal pula. Maka, saudaraku, alangkah naif, hina dan ruginya orang yang rela mempertaruhkan kehidupan abadinya di akhirat kelak dengan alasan ingin merebut keberhasilan dunia. Sungguh orang-orang yang hidup dengan logika sekular seperti itu tentu akan menyesal sangat ketika baru menyadarinya setelah ia berada di alam akhirat. Mereka akan mengakui kekeliruan dan dosa mereka pada saat yang sudah terlambat dan keadaan sudah tidak dapat diperbaiki lagi.

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ

”Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Al-Mulk ayat 10-11)

Pantaslah bilamana Allah ta’aala memerintahkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar menjauh dari kaum pencinta dunia. Sebab mereka tidak pernah peduli dengan peringatan yang datang dari Allah ta’aala dan RasulNya.

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ

”Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan hanya menginginkan kehidupan duniawi. Itulah batas pengetahuan mereka.” (QS An-Najm ayat 29-30)

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan dalam sebuah haditsnya bahwa dampak negatif menjadi pemburu dunia sangat jelas’

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, niscaya Allah ta’aala cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di hadapan kedua matanya dan Allah tidak memberinya dari harta dunia ini, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)

Dan sebaliknya, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan manfaat yang diperoleh orang bertaqwa yang menjadikan akhirat sebagai perhatian utamanya.

وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Dan barangsiapa yang akhirat menjadi keinginannya, niscaya Allah ta’aala kumpulkan baginya urusan(dunia)-nya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya.” (HR Ibnu Majah 4095)

Sumber: eramuslim.com



Kamis, 05 Maret 2009

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca doa `sapu jagat' , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

---------
Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang,
disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana



Senin, 09 Februari 2009

Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat

Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sedemikian kuatnya mengkondisikan ummatnya untuk menghayati betapa hari Kiamat telah dekat. Sehingga dalam suatu khutbah beliau digambarkan ibarat seorang komandan perang yang memperingatkan pasukannya agar selalu dalam keadaan full alert alias waspada siaga satu.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ’anhu: “Adalah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bila menyampaikan khotbah mata beliau memerah, suara meninggi dan sangat marah, seakan-akan panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya dengan aba-aba: “Awas! Berjaga-jagalah kalian pada pagi hari dan petang harimu!” dan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Aku dan hari kiamat diutus (berdampingan) seperti ini.” Dan beliau menghimpun jari telunjuk dengan jari tengahnya.”(HR Muslim 4/359)

Bayangkan..! Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diriwayatkan sebagai memerah matanya, meninggi suaranya dan berkhutbah dalam keadaan sangat marah...! Sungguh persis seperti seorang komandan di tengah medan jihad yang sedang memberi arahan kepada pasukannya. Beliau samasekali tidak ingin seorangpun pasukannya lengah dalam mengantisipasi gerak musuh. Sebab kelengahan pasukan bisa menyebabkan musuh berhasil menjebol benteng ummat dan itu berarti seluruh ummat Islam bakal terancam nyawanya. Sungguh, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam sangat mematuhi arahan Allah subhaanahu wa ta’aala di dalam ayat di bawah ini:

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari itu (kiamat) sudah dekat waktunya.” (QS Al-Ahzab ayat 63)

Memang sudah sepantasnya kita ummat Islam yang hidup di zaman ini menghayati bahwa hari Kiamat sudah dekat. Mengapa? Karena bila kita ingat bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan penutup rangkaian nabi-nabi Allah subhaanahu wa ta’aala berarti kita merupakan penutup berbagai ummat. Bila beliau dijuluki Nabi Akhir Zaman berarti kita merupakan Ummat Akhir Zaman. Dan berdasarkan hadits Ringkasan Perjalanan Sejarah Ummat Islam, kita dewasa ini sedang menjalani kehidupan di babak keempat dari lima babak yang bakal dilalui ummat Islam hingga menjelang dekatnya kedatangan hari Kiamat.

تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم يكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت (أحمد)

”Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian, selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang menggigit selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang memaksakan kehendak dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau terdiam.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 37/361)

Babak pertama, yaitu babak Kenabian telah berlalu. Ia merupakan masa di mana ummat Islam –yakni para sahabat radhiyallahu ’anhum- hidup bersama Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sejak awal beliau diutus hingga berpulang ke rahmatullah.

Babak kedua, yaitu babak Kekhalifahan yang mengikuti manhaj Kenabian juga telah berlalu. Ia ditandai dengan munculnya para khulafa ar-rasyidin, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhum.

Babak ketiga, yaitu babak raja-raja yang menggigit juga telah berlalu. Ia ditandai dengan masa di mana ummat memiliki para pimpinan yang dijuluki khalifah-khalifah namun pola suksesinya menerapkan pola kerajaan alias pola oligarkhi atau sistem waris-mewarisi tahta kerajaan. Mereka dijuluki raja-raja yang menggigit karena mereka masih ”menggigit” Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Babak ini berlangsung sangat lama sekitar 13 abad...! Sejak Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Ustmani Turki. Ia berakhir pada tahun 1924 atau 1342 Hijriyyah.

Semenjak babak ketiga berlalu, maka ummat Islam memasuki babak keempat, yakni babak raja-raja yang memaksakan kehendak. Babak ini belum berlalu. Kita sedang menjalani babak ini. Suatu babak yang sering disebut sebagai the darkest ages of the Islamic History. Tanda bahwa babak ini belum berakhir ialah fakta bahwa babak kelima, yakni babak kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian belum muncul kembali. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menginformasikan kepada kita bahwa babak penuh keadilan dan kejayaan Islam tersebut pasti bakal muncul. Kapankah ia akan muncul? Wallahu a’lam bish-showwab.

Suatu hal yang pasti, kalau kita umpamakan perjalanan kelima babak perjalanan sejarah ummat Islam ini sebagai sebuah skenario film, maka ia sangat layak disebut sebagai film berjudul Akhir Zaman. Dan kalau kita mengikuti sebuah cerita yang mengandung lima babak dan kita tahu bahwa kita sudah sampai ke babak keempat, saya kira sudah sepantasnya kita beranggapan bahwa ini bukanlah masih di awal cerita, atau di bagian pertengahannya. Namun lebih wajar dikatakan bahwa ini sudah menjelang akhir dari rangkaian cerita.

Berarti, saudaraku, tidakkah pantas kitapun mengucapkan apa yang Allah subhaanahu wa ta’aala telah firmankan di dalam Kitab-Nya: BOLEH JADI KIAMAT SUDAH DEKAT WAKTUNYA...!

Marilah kita jauhi sikap santai dan acuh tak acuh terhadap fenomena hidup di Akhir Zaman menjelang datangnya Kiamat. Marilah kita tingkatkan pengetahuan dan keyakinan kita akan tanda-tanda menjelang datangnya Kiamat agar kita dapat mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan skenario ilahi yang bakal –insyaAllah- pasti terjadi. Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala memasukkan kita ke dalam golongan yang tidak salah mensikapi segenap tanda demi tanda Akhir Zaman yang kian membenarkan kenabian Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.

Sumber eramuslim.com