Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2009

Perjanjian Nabi Musa AS dengan Bani Isroil

Dalam Qs Albaqoroh :63 Ketika nabi musa datang kepada mereka kaumnya supaya mengamalkan isi taurot dan mereka menganggap tidak bisa mempraktekannya maka turun suatu mukjizat lagi kepada nabi Musa As yaitu ia mampu mengangkat gunung ada yang meriwayatkan sebagian dari gunung “Thursina” [gunung tempat nabi Musa menerima Tongkat dari Allah] diatas mereka dan menyuruh mengambil dan menerima isi taurot dengan serius mengambil dengan kekuatan jasmani dan hati dalam al a'rof ;145 dan maryam ;12 yaitu:

“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh {566} (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya {567}, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik {568}[7:145].
“Hai Yahya, ambillah {899} Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah {900} selagi ia masih kanak-kanak,[19:12]

Dan untuk umat nabi Muhammad SAW kita harus jaga dengan jasmani dan batin untuk mengamalkan isi alquran, apa isi perjanjain Allah kepada itu ada :83-84, albaqoroh almaidah :12
1. Jangan menyemah kecuali Allah

2. Berbuat baiklah kepada Orang tua

3. Berbuat baiklah kepada Kerabat

4. Berbuat baiklah kepada Orang yatim

5. Berbuat baiklah kepada Miskin

6. Bicaralah dengan ungkapan yang baik dan indah

7. Dirikan sholat

8. Tunaikan Zakat

9. Jangan dampai ada pertumpahan darah dibumi Allah

10. Dan jangan saling mengusir

11. Dan mempercayai seluruh nabi yang telah di utus dan akan diutus
Tapi namanya juga bani isroil mereka tidak melaksanakannya, terus kenapa Allah memaksa mereka padahal tiada paksaan masuk islam itu di Alquran jelas menyebutkan hal ini hanya untuk bani isroil karena mereka diawal sudah menerima agama ini maka mereka harus konsekuensi untuk melaksanakan, bani isroil setiap diberi kenikmatan saat itu juga mengingkari nikmat-Nya dan kufur. Kadang Allah mengancam umat dengan api nereka itu juga merupakan rahmat Allah untuk menyelamatkan manusia agar tidak tersesat dijalan yang salah.

Allah pernah mengancam bani isroil dengan gunung akan diruntuhkan kepada mereka kalau mereka tidak mau melaksanakan isi taurot, seorang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, Allah menyeru mereka melaksanakan dengan seluruh kekuatan dan semangat. Semua ketentuan Allah harus diingat atinya selalu berpegangan kepada ketentuan Allah. Orang yang hidupnya selalu dibarengi dengan ketakwaan pasti akan selamat dalam segala hal. Allah memerintahkan puasa juga begitu supaya kita bertaqwa tapi tetep saja bani isroil tetep berpaling dari semua perjanjian yang pernah disepakati mereka dengan terang-terangan tetapi beginilah ampunan Allah tidak pernah tertutup selalu dan selalu Allah memberi kesempatan nanti mungkin mereka akan sadar.

Kapan orang dikatakan rugi yaitu ketika ia melepas baju iman dan berpaling dari Allah, kalau kita membaca alquran pahala dan surga untuk kita, apabila kita mau hitung menghitung amal kita dan ibadah kita kepada Allah maka lebih banyak banus yang diberi Allah apabila mau dibandingkan dengan amal kita Allah Akbar. Dan setiap manusia kita mengucapkan kalimah Alhamdulillah maka ia harus mengucapkan kalimah Alhamdullilah yang kedua karena alhamdulliah yang pertama adalah nikmat Allah dan alhamdulillah kedua adalah akan ditambah lagi nikmat kepada kita dan seterusnya. Menurut imam Sajjad apabila ia diberi umur dari Nabi Adam sampai hari kiamat datang beliau sujud terus dan tidak akan pernah mengangkat kepalanya itu belum mampu membayar nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya

Yang mati sabagai syuhada' mereka layak memperoleh segala fasilitas Allah dan bonus dari Allah maka kita tidak layak hitung-hitungan pahala dengan Allah, semua ini adalah murni rahmat-Nya makanya Allah selalu mengulur-ulur untuk memberi sanksi kepada kita apabila Allah menghukum kita ketika berdosa maka tidak akan ada manusia masih melata dibumi ini habis semuanya karena satiap hari ini kita berbuat dosa, tetapi selalu ditunda-tunda oleh Allah sampai batas waktunya maka kalau sudah tiba waktunya tidak bisa dimaju dan mundur lagi dan Allah paling mengetahui bagaimana nasib Hamba-Nya ada ini sesuai dalam (An-nahl 61) berikut:
“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”[16:61]

(Qs fatir 45)
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun {1263} akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”[35:45]

Hanya dengan anugrah Allah kita wajib bergembira harus diingat-ingat “Hanya”, padahal bani isroil umat paling biadab yang pernah ada masih diberi kesempatan “Allahu Akbar”, apabila kita punya dosa maka diampuni oleh Allah dan sebilangan bnayk dosa tadi di ganti dengan pahala, orang yang rugi ialah orang yang sudah dilepas oleh Allah tidak diberi petunjuka lagi “Naudzubillah”.

Narasumber :
- Sentuhan Qolbu Bersama Habib Muhammad bin Alwi Pasuruhan
- www.pasfmpati.com Streaming Pukul 00:00 Wib


BANGSA BANI ISROIL DI RUBAH ALLAH MENJADI KERA

Mereka Bangsa yahudi adalah yang paling melampaui batas dalam Qs al a'arof :163
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri {578} yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu {579}, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.[7:163]

Pada hari sabtu??? ada apa dengan hari sabtu di alquran ini?? bila kita melihat alquran haru yang ada dalam alquran hanya jumat dan satu, hebatnya lagi jum'at dan sabtu ini juga tidak termasuk dalam jumlah bilangan, Allah menjelaskan dalam Ayat ini mereka bani irsoil menjadi “kera” dalam segi bahasa Sabtu artinya memutus dan tenang karena mereka di hari sabtu itu waktunya libur dari semua Amal dan memutus semua acaranya tapi Allah memberi ujian kepada mereka untuk tidak mancing pada hari sabtu, tapi anehnya selalu di hari sabtu ikannya lebih banyak ikannya karena airnya tenang dan ikan banyak yang berkumpul. Allah menguji mereka kemudian mereka diubah Oleh Allah menjadi kera, cerita ini sanagt populer dari kaum bani isroil secara turun temurun mereka yang hidup dilautan dekat palestina, mereka yang dilarang mancing pada hari sabtu didaerah itu dibagi menjadi 3 golongan salah satu dari mereka tidak menghiraukan seruan Allah, kelompok kedua tidak melakukan kemudian mereka melarang dan kelompok ketiga tidak melakukan dan tidak melarang, kelompok 3 menasehati kelompok kedua kenapa kalian melarang kelompok yang pertama mereka pasti akan mendapat azab dari Allah, terus yang kelompok kedua beralasan mereka punya 2 alasan:
Pertama :
mereka takut kalau dihari kiamat Allah meminta pertanggungjawab mereka karena menghiraukan orang yang melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, urusannya hanya melarang saja mau dituruti atau tidak urusan masing-masing.
Kedua :
Mungkin dengan melarang mereka untuk tidak mancing mereka menjadi bertaubat dan jera, lalu siapa yang mendapat azab dan siapa yang diselamatkan oleh Allah? Kelompok pertama dan ketiga mendapat azab sementara yang kedua diselamatkan oleh Allah kerena mereka amal ma'ruf nahi mungkar.

Ada yang meriwayatkan kelompok pertama diubah menjadi kera dan yang ketiga tadi juga mendapat balak tapi beda dengan kelompok pertama, lagi ada yang meriwayatkan mereka langsung mati, ada perselisihan mereka berubah bentuk apa cuman hakikatnya saja artinya sifat mereka saja, ada juga yang menyebutkan mereka berubah menjadi kera selama 3 hari lalu mati, ibnu abbas meriwayatkan mereka 3 hari tidak bisa makan, tidak bisa minum dan berhubungan lalu mereka mati. Kalau melihat tingkah laku bani isroi maka pantas bagi mereka mendapatkannya bahkan mereka adalah umat yang paling dilaknat oleh langit dan bumi,

Dalam Alquran Allah pernah merubah kaum menjadi Kera dan Babi Kenapa mereka dirubah menjadi kera atau babi? Karena kera itu pantatnya kelihatan terus warnanya pantatnya beda dengan yang lain artinya mereka tidak peduli orang-orang menertawakan tingkah laku mereka yang penting tujannya tercapai, babi lihat saja mereka meski sudah kenyang tetep saja makan tidak seperti hewan yang lain, dan semua sanksi ini adalah sebagai pelajaran bagi yang menyaksikan saat itu karena ada juga yang diselamatkan saati itu, dan sebagai pelajaran untuk umat yang akan datang sampai hari kiamat dan pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.

Balak ini juga bisa untuk umat muhammad dirubah oleh Allah tapi sebelum berubah wajah depan jadi dibelakang dengan ancaman kedua dijadikan kera, ada ancaman Allah yang lebih dahsyat dan ini berlaku untuk seluruh umat nabi yaitu Allah merubah watak asli manusia yaitu senang melihat kebaikan dan benci apabila melihat kejahatan diubah menjadi senang pada kemungkaran dan benci sama kebaikan, matanya tidak bisa lagi meneteskan air matanya untuk menyadari dosa-dosanya, mereka tidak sadar dan ini adalah balak yang paling besar, sering kita menyaksikan bermacam-macam pelajaran dan siapa yang mampu mengambil pelajarannya mereka akan selamat dan ini jauh lebih berbahaya dan ini untuk seluruh umat, seluruh cerita yang ada di Alquran adalah pelajaran bagi yang masih mempunyai akal dan orang – orang yang bertaqwa saja ini bukan dongeng belaka sungguh mengerikan.

Narasumber ;
- Sentuhan Qolbu Bersama Habib Muhammad bin Alwi Pasuruhan
- www.pasfmpati.com Streaming Pukul 00:00
- www.jkmhal.com

Senin, 20 April 2009

Kisah Pemudi Yahudi Yang Memeluk Islam

Pada suatu malam tepatnya ketika menjelang pagi, terbersit keinginan untuk bunuh diri untuk meng-akhiri kegalauan ini. Aku berada di dalam ruangan yang tak bermakna. Hujan yang deras, gulungan awan yang tebal seakan memenjarakanku. Apa yang ada di sekitarku seolah ingin membunuhku....

Wahai saudara-saudaraku! Agama ini merupakan sebuah agama yang agung. Jika ada seseorang yang mendakwahkannya dengan lurus dan benar maka jiwa yang suci pasti akan menerimanya, walau apapun agama yang sedang ia anut atau dari bangsa manapun ia berasal. Dalam kisah ini, penulis kisah yang telah kami pilihkan untuk kalian dari jaringan internet berkata, teman wanita pemudi itu berkata, "Aku melihat wajahnya berseri-seri di dalam sebuah masjid yang terletak di pusat kota kecil di Amerika, sedang membaca al-Qur'an yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku ucapkan salam kepadanya dan ia membalasnya dengan iringan senyum. Kami pun membuka obrolan dan dalam waktu singkat kami menjadi dua orang sahabat yang sangat akrab.

Pada suatu malam, kami bertemu di tepi sebuah danau nan indah. Di sanalah ia menceritakan kisah keislamannya. Mari kita simak kisah tersebut.

Ia berkata, "Aku hidup dalam rumah tangga Amerika penganut agama Yahudi yang berantakan. Setelah ayah dan ibuku bercerai, ayahku menikah dengan wanita lain. Ibu tiriku ini sering menyiksaku. Pada usia 17 tahun aku lari dari rumah dan pergi dari satu negara bagian ke negara bagian lain. Di sana aku bertemu dengan seorang pemudi Arab mereka (sebagaimana yang ia ceritakan) adalah teman tempat pelarianku yang sangat baik. Mereka semua tersenyum padaku kemudian kami menyantap hidangan makan malam. Akupun ikut melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Setelah menyantap hidangan, aku lang-sung kabur, karena aku tidak suka persahabatan seperti ini. Ditambah lagi aku tidak menyukai bangsa Arab.

Hidupku yang sengsara tak pernah merasa tenang, selalu dirundung kegelisahan. Aku mulai mendalami agama dengan tujuan ingin mendapatkan ketenangan rohani dan kekuatan moril dalam menjalani kehidupan. Namun semua itu tidak aku dapati dalam agama Yahudi. Ternyata agama ini hanya menghormati kaum wanita namun tidak menghormati hak asasi manusia dan sangat egois. Setiap mengajukan suatu pertanyaan aku tidak mendapatkan jawaban. Lalu aku berpindah ke agama Nasrani. Ternyata dalam agama ini banyak pertentangan yang sulit diterima akal dan hanya menuntut kita agar menerimanya. Berkali-kali aku tanyakan bagaimana mungkin Tuhan membunuh anakNya? Bagaimana cara ia melahirkan? Bagaimana mungkin kita mempunyai tiga Tuhan sementara satu pun tidak ada yang dapat kita lihat? Lalu aku bertekad untuk meninggalkan semua itu. Namun aku yakin bahwa alam ini pasti ada yang menciptakan. Setiap malam aku selalu berpikir dan berpikir hingga pagi menjelang.

Pada suatu malam tepatnya ketika menjelang pagi, terbersit keinginan untuk bunuh diri untuk mengakhiri kegalauan ini. Aku berada di dalam ruangan yang tak bermakna. Hujan yang deras, gulungan awan yang tebal seakan memenjarakanku. Apa yang ada di sekitarku seolah ingin membunuhku. Pepohonan memandangku dengan pandangan sinis, siraman air hujan mengalunkan irama kebencian. Kupandang dari balik jendela, di dalam sebuah rumah terpencil. Aku merasa diriku rendah di hadapan Allah.

Ya Tuhanku! Aku tahu Kau ada di sana. Aku tahu Kau menyayangiku. Aku seorang terpenjara, hambaMu yang lemah, Tunjukilah jalan yang harus kutempuh, Ya Tuhanku! berilah aku petunjuk! Atau cabut saja nyawaku. Aku menangis tersedu-sedu hingga tertidur.

Pada pagi hari aku bangun dengan ketenangan hati yang belum pernah aku rasakan. Seperti biasa aku keluar mencari rizki dengan harapan semoga ada yang mau memberiku sarapan, atau mengambil upah dengan mencuci piringnya. Di sanalah aku bertemu dengan seorang pemuda Arab kemudian aku berbincang-bincang dengannya cukup lama. Setelah sarapan, ia memintaku untuk datang ke rumahnya dan tinggal bersamanya, lalu aku pun ikut dengannya. Ketika kami sedang menyantap makan pagi, minum dan bercanda, tiba-tiba muncul seorang pemuda berjenggot yang ber-nama Sa'ad. Nama tersebut aku ketahui dari temanku yang sambil terkejut menyebut nama pemuda itu. Pemuda itu menarik tangan temanku dan menyuruhnya keluar. Tinggallah aku sendirian duduk gemetar. Apakah aku sedang berhadapan dengan seorang teroris? Tetapi ia tidak melakukan sesuatu yang menakutkan, bahkan ia memintaku dengan lemah lembut agar aku kembali ke rumahku. Lalu aku katakan kepadanya bahwa aku tidak punya rumah. Ia memandangku dengan perasaan terharu.

Kesan ini dapat aku tangkap dari mimik wajahnya. Kemudian ia berkata, 'Baiklah, kalau begitu tinggallah di sini malam ini, karena di luar cuaca teramat dingin dan pergilah besok. Kemudian ambil uang ini semoga bermanfaat sebelum kamu mendapat pekerjaan.' Ketika ia hendak pergi aku menghadangnya lalu aku ucapkan terima kasih. Aku katakan, 'Tetaplah di sini dan aku yang akan keluar, namun aku harap engkau menceritakan apa yang mendorongmu melakukan ini terhadap aku dan temanmu. Ia lalu duduk dan mulai bercerita kepadaku sementara matanya memandang ke bawah. Katanya, 'Sebenarnya yang mendorongku berbuat seperti itu karena agama Islam melarang melakukan segala yang haram, seperti berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram dan meminum khamar. Islam juga mendorong untuk berbuat baik terhadap sesama manusia dan menganjurkan untuk berakhlak mulia.' Aku merasa heran, apakah mereka ini yang disebut teroris? Tadinya aku mengira mereka selalu membawa pistol dan membunuh siapa saja yang mereka jumpai. Demikian yang aku dapatkan dari media massa Amerika.

Aku katakan, 'Aku ingin mengenal Islam lebih dalam, dapatkah engkau memberitahukannya kepadaku?' Ia berkata, "Aku akan bawa kamu ke sebuah keluarga muslim yang taat dan kamu dapat tinggal di sana. Aku tahu mereka akan mengajarkan sebaik-baik pengajaran kepadamu." Kemudian pemuda itu membawaku pergi. Pada jam 10 aku sudah berada di rumah tersebut dan mendapat sambutan hangat. Lalu aku mengajukan beberapa pertanyaan sedang Dr. Sulaiman sebagai kepala rumah tangga menjawab pertanyaan tersebut sampai aku merasa puas. Aku merasa puas karena aku telah mendapatkan jawaban pertanyaan yang selama ini aku cari. Yaitu agama yang terang dan jelas yang sesuai dengan fitrah manusia. Aku tidak mengalami kesulitan dalam memahami setiap apa yang aku dengar. Semuanya merupakan kebenaran. Ketika mengumumkan keislamanku, aku merasa adanya sebuah kebangkitan yang tiada tara.

Pada hari kebangkitanku itu atas kesadaranku sendiri aku langsung memakai cadar. Tepat jam 1 siang Sayyidah (Nyonya Sulaiman) membawaku ke sebuah kamar yang terbaik di rumah itu. Ia berkata, 'Ini kamarmu, tinggallah di sini sesuka hatimu.' Ia melihatku tengah memandang ke luar jendela. Aku tersenyum sementara air mata berlinang membasahi pipiku. Ia bertanya mengapa aku menangis. Aku ja-wab, 'Kemarin pada waktu yang sama aku berdiri di balik jendela merendahkan diri kepada Allah.'

Aku berdo'a, 'Ya Tuhanku! Tunjukilah aku jalan kebenaran, atau cabut saja nyawaku.' Sungguh Allah telah menunjukiku dan memuliakanku. Sekarang aku adalah seorang muslimah bercadar dan terhormat. Inilah jalan yang aku cari, inilah jalan yang aku cari. Sayyidah memelukku dan ikut menangis bersamaku'."

(SUMBER: SERIAL KISAH-KISAH TELADAN KARYA Muhammad Shalih al-Qahthani. Penerbit DARUL HAQ, Jakarta)

Kamis, 05 Maret 2009

Ummu Habibah

Inilah sosok wanita yang patut dijadikan teladan bagi muslimah zaman sekarang. Bagaimana tidak? orang-orang terdekat dan dicintainya merupakan musuh baginya. Mereka berusaha memurtadkan dan memalingkannya dari jalan kebenaran. Dialah salah seorang ummul mukminin yang banyak diuji keimanannya.

Sosok tersebut adalah Ramlah binti Abu Sufyan, putri seorang pemuka Quraisy dan pemimpin orang-orang musyrik hingga penaklukan Mekah. Akan tetapi, Ramlah binti Abu Sufyan tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa dirinya untuk kafir ketika itu. Abu Sufyan tak kuasa memaksakan kehendaknya, justru anaknya menunjukkan pendirian yang kuat dan kemantapan tekad. Beliau rela menanggung beban yang melelahkan dan beban berat karena memperjuangkan akidahnya.

Pada mulanya beliau menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy, seorang muslim seperti beliau. Tatkala kekejaman kaum kafir terhadap kaum muslimin, Ramlah hijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Disanalah beliau melahirkan seorang anak perempuan, yang diberi nama Habibah. Dengan nama anaknya inilah beliau dijuluki (Ummu Habibah).

Ummu habibah senantiasa bersabar dalam memikul beban lantaran memperjuangkan diennya dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauh dari keluarga dan kampung halaman, bahkan terjadi musibah yang tidak dia sangka sebelumnya. Beliau bercerita, “Aku melihat dalam mimpi, suamiku dengan bentuk yang sangat buruk dan menakutkan. Aku pun terperanjat dan bangun, kemudian aku memohon perlindungan kepada Allah SWT dari hal itu. Ternyata tatkala pagi suamiku telah memeluk agama Nasrani. Kuceritakan mimpiku kepadanya, namun ia tidak menggubrisnya.”

Suaminya mencoba dengan segala kemampuan untuk memurtadkannya, namun Ummu Habibah tetap tak bergeming. Bahkan beliau justru mengajak suaminya untuk kembali ke Islam, walaupun ditolak mentah-mentah dan malah suaminya semakin asyik dengan khamr. Hal ini berlangsung hingga ia meninggal.

Hari-hari berlalu di bumi hijrah, dengan ujian-ujian berat menemani Ummu habibah. Terapi dengan keimanan yang dikaruniakan Allah SWT, dirinya mampu menghadapinya. Suatu malam, dia melihat dalam mimpinya ada yang memanggilnya “Wahai ummu mukminin…!”. Beliaupun terperanjat bangun. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah SAW kelak akan menikahinya.

Setelah selesai masa iddah-nya, tiba-tiba ada seorang budak wanita (jariyah) dari Najasyi yang memberitahukan kepada beliau bahwa Rasulullah SAW telah meminangnya. Alangkah bahagianya beliau mendengar kabar gembira tersebut, sehingga beliau berkata, “Semoga Allah memberikan kabar gembira untukmu.” Lantas karena senangnya, beliau menanggalkan gelang kakinya lalu diberikan kepada budak wanita yang membawa kabar tersebut. Setelah itu, beliau meminta Khalid bin Sa’id bin Al-‘Ash untuk menjadi wakil baginya menerima lamaran raja Najasy. Rasulullah bertemu dengannya pada tahun ke enam atau ke tujuh Hijriyah. Kala itu Ummu Habibah berumur 40 tahun.

Ummu Habibah menempatkan urusan agama pada tempat yang pertama. Beliau utamakan akidahnya daripada keluarga. Beliau menyatakan bahwa loyalitas beliau adalah untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untuk seorang pun selain keduanya.

Dikutip dari majalah Nikah Vol. 5, No. 5, Agustus 2006